Awal tahun 2026 menjadi momen refleksi bagi dunia pendakian Indonesia. Gunung Kerinci, ikon tertinggi di Sumatera, sementara menutup pintu bagi pendaki setelah sinyal aktivitas vulkanik menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.
Per 6 Januari 2026, pusat pemantauan kegunungapian mencatat serangkaian dinamika dari bawah permukaan: puluhan hingga ratusan getaran vulkanik yang mengindikasikan pergerakan magma dan tekanan gas di dalam tubuh gunung. Meski intensitasnya belum masuk fase kritis, pola ini cukup kuat untuk menempatkan Kerinci pada Level II (Waspada).
Otoritas pengelola dan basecamp resmi menetapkan penutupan jalur mulai 6 Januari 2026, mencakup:
- R.10 Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci,
- Bukit Bontak, Kabupaten Solok Selatan,
- hingga titik akses lain yang berada dalam zona rawan 3 kilometer dari kawah.
Selama masa penutupan, masyarakat lokal dan pengunjung diminta tidak memasuki radius 3 km dari puncak kawah, area yang berpotensi terpapar gas vulkanik, hembusan panas, atau lontaran material jika terjadi letusan freatik mendadak. Kegiatan di kaki gunung di luar zona tersebut masih diperbolehkan, tetapi tetap dianjurkan mengikuti update resmi dari pos pengamatan dan basecamp.
Gunung Ditutup, Bukan Ditinggal
Penutupan ini bukan sekadar jeda bahaya, melainkan juga kesempatan memulihkan jalur dan budaya pendakian. Setelah libur Nataru 2025/2026, jalur favorit R.10 Kersik Tuo dilaporkan dipenuhi sampah plastik sisa logistik dan konsumsi pendaki. Tim relawan dan ranger kini berfokus pada pembersihan, edukasi, serta evaluasi tata kelola jalur sebelum dibuka kembali.
Langkah ini menjadi pengingat bahwa ancaman gunung tidak selalu berupa letusan — kadang hadir dalam bentuk yang lebih senyap, seperti hipotermia, gas beracun, longsor, dan kerusakan lingkungan akibat sampah.
Etika Pendakian di Musim Hujan
Gunung Kerinci dikenal memiliki karakter cuaca yang cepat berubah. Kombinasi hujan, kabut, dan suhu rendah membuat pendakian saat ini memiliki risiko tinggi, terutama jika fisik dan perlengkapan tidak memadai. Karena itu, penutupan ini juga diarahkan untuk mencegah insiden pendaki kelelahan, hipotermia, atau tersesat di medan yang berat.
Sampai Kapan Ditutup?
Belum ada tanggal pasti pembukaan kembali. Jalur akan dibuka hanya setelah kondisi vulkanik stabil dan medan dinyatakan aman oleh pihak berwenang dan basecamp resmi.









