PEMALANG – Operasi pencarian besar-besaran terhadap seorang pendaki remaja, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), yang hilang di Gunung Slamet, Jawa Tengah, resmi dihentikan oleh Tim SAR Gabungan pada awal Januari 2026. Hingga hari terakhir pencarian, keberadaan siswa SMAN 5 Magelang tersebut masih menjadi misteri.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Niat Mencari Bantuan
Peristiwa bermula saat Syafiq bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran, melakukan pendakian melalui jalur Dipajaya, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/12/2025). Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau pendakian satu hari tanpa menginap.
Namun, situasi menjadi sulit saat mereka berada di sekitar Pos 9. Himawan dilaporkan mengalami kram kaki parah yang membuatnya sulit berjalan. Dalam kondisi darurat tersebut, Syafiq memutuskan untuk turun sendirian guna mencari bantuan ke basecamp, sementara Himawan menunggu di lokasi.
Satu Rekan Selamat, Syafiq Menghilang
Tim SAR yang mendapat laporan segera bergerak dan berhasil menemukan Himawan di sekitar Pos 5 pada Selasa (30/12/2025) dalam kondisi lemas namun selamat. Namun, Syafiq yang seharusnya sudah sampai di basecamp untuk melapor, justru tidak pernah terlihat lagi.
Upaya pencarian yang melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI/Polri, serta relawan pecinta alam telah menyisir area puncak hingga lembah yang dikenal curam.
Kendala Cuaca Ekstrem dan Penutupan Operasi
Selama masa pencarian yang berlangsung lebih dari satu minggu, tim di lapangan menghadapi tantangan berat berupa:
-
Cuaca Buruk: Kabut tebal dan hujan badai di ketinggian 3.428 MDPL membatasi jarak pandang.
-
Medan Berat: Jalur pendakian yang licin serta jurang-jurang dalam di sekitar area hilangnya korban.
Berdasarkan prosedur standar operasional (SOP) pencarian dan penyelamatan, operasi resmi akhirnya dihentikan pada Senin malam (05/01/2026) setelah tidak ditemukannya tanda-tanda atau jejak baru keberadaan korban di radius yang telah diperluas.
Duka dan Harapan Keluarga
Di basecamp Dipajaya, sepeda motor dan kartu identitas Syafiq masih tersimpan sebagai pengingat pahit akan perjalanan yang belum tuntas. Pihak keluarga menyatakan terima kasih atas kerja keras tim SAR, meski keputusan penghentian operasi ini membawa duka mendalam bagi mereka dan rekan-rekan sekolah korban di Magelang.
Pihak pengelola jalur pendakian kembali mengingatkan para pendaki untuk selalu memprioritaskan keselamatan, tidak memaksakan diri dalam cuaca buruk, dan tetap bersama kelompok dalam kondisi apa pun.









