JAKARTA – Memasuki bulan kedua di tahun 2026, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan luar ruang seperti hiking dan camping terus meningkat. Namun, para petualang perlu menyesuaikan rencana mereka menyusul adanya kebijakan konservasi di beberapa gunung ikonik serta pergeseran tren gaya hidup saat berkemah.
Rinjani Mengambil Jeda, Ranca Upas Berbenah
Kabar utama datang dari Nusa Tenggara Barat. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani resmi menutup seluruh jalur pendakian hingga 31 Maret 2026. Penutupan rutin ini bukan sekadar prosedur administratif, melainkan langkah vital untuk memberikan waktu bagi ekosistem Rinjani memulihkan diri (restorasi) sekaligus menghindari risiko keselamatan akibat cuaca ekstrem yang kerap melanda puncak gunung di awal tahun.
Sebagai alternatif, para pecinta alam kini mulai melirik kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Ranca Upas di Ciwidey baru saja meresmikan penataan ulang blok perkemahannya, seperti Blok Puspa, untuk memberikan pengalaman yang lebih privat bagi keluarga. Sementara itu, kawasan Trawas di Mojokerto semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi favorit bagi mereka yang mencari kenyamanan glamping tanpa harus mengorbankan estetika alam.
“Rugged Gear”: Standar Baru Pendakian Modern
Dari sisi teknologi, tahun 2026 menandai pergeseran alat yang dibawa pendaki. Penggunaan ponsel pintar biasa mulai digantikan oleh perangkat rugged phone yang tahan banting dan air. Ketahanan baterai yang luar biasa dan kemampuan GPS yang lebih presisi menjadi alasan utama mengapa para pendaki kini lebih memilih perangkat tangguh ini demi keamanan navigasi di jalur yang sulit.
Tak hanya itu, tren memasak di alam atau bushcraft cooking juga semakin populer. Alih-alih hanya membawa mie instan, para petualang kini mulai membawa perlengkapan masak cast iron mini dan kompor kayu lipat untuk menciptakan hidangan gourmet di tengah hutan.
Keamanan Tetap yang Utama
Meski tren perlengkapan semakin canggih, BMKG tetap mengingatkan para pendaki untuk waspada terhadap fenomena hidrometeorologi. Hujan intensitas tinggi di area pegunungan dapat memicu hipotermia dan jalur yang sangat licin.
“Februari adalah waktu yang tepat untuk menikmati glamping di dataran rendah. Berikan gunung waktu untuk bernapas, dan pastikan perlengkapan Anda siap menghadapi segala cuaca sebelum memutuskan untuk mendaki,” ujar salah satu pakar kegiatan luar ruang dalam diskusi Camperfest 2026 di Malang.
Bagi Anda yang sudah rindu menghirup udara segar, pastikan untuk selalu mengecek status jalur pendakian melalui aplikasi resmi pengelola taman nasional sebelum mengemas tas keril Anda.









