Tragedi Lawu Ultra: Belajar dari Musibah, Ahli Desak Kewajiban Skrining Medis dan Ubah Regulasi Hiking Ekstrem

(Sabtu, 14 Desember 2025) – Komunitas hiking dan outdoor activity kembali berduka. Kejadian meninggalnya seorang peserta ultra trail running di ajang Lawu Ultra akhir pekan lalu akibat dugaan serangan jantung menjadi pengingat yang sangat serius, bahkan bisa dibilang sebagai peringatan keras, tentang batas kemampuan fisik manusia di alam bebas. Meskipun terjadi pada ajang profesional dengan protokol keselamatan yang ketat, insiden ini kembali menyoroti risiko kesehatan yang melekat pada aktivitas fisik ekstrem di ketinggian (elevasi tinggi).

Korban, yang diketahui berusia paruh baya, ambruk di tengah trek yang menantang. Tragedi ini bukan hanya tentang kelelahan fisik, melainkan kegagalan sistem tubuh di bawah tekanan ekstrem lingkungan.

Para ahli kesehatan dan pegiat alam kini mendesak adanya kewajiban pemeriksaan kesehatan komprehensif (skrining medis) bagi para hiker dan atlet trail running, terutama mereka yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki riwayat penyakit kardiovaskular atau pernapasan.

“Aktivitas mendaki gunung, terutama yang cepat dan jarak jauh, seperti pada ultra running, dapat memicu lonjakan tekanan darah dan vasokonstriksi pada pembuluh darah paru. Ini berpotensi sangat besar menyebabkan Hipertensi Paru bagi individu yang rentan, bahkan tanpa gejala sebelumnya,” jelas Dr. Rini Santoso, seorang spesialis jantung dan pembuluh darah. “Jangan sepelekan kebugaran dasar. Kebugaran harus disertifikasi secara medis, bukan hanya dirasakan.”

Desakan Perubahan Regulasi

Tragedi ini juga memicu diskusi mendalam di kalangan regulator pariwisata dan pengelola kawasan konservasi tentang perlunya perubahan regulasi.

  • Pentingnya Emergency Plan yang Terstruktur: Kasus ini memperkuat perlunya setiap pendaki, bahkan yang tergabung dalam event, memiliki emergency plan yang jelas, termasuk komunikasi darurat dan titik evakuasi terdekat.

  • Larangan Solo Hiking Didesak Diperluas: Selain Lawu, beberapa gunung populer seperti Rinjani dan Semeru sudah mulai menerapkan aturan ketat, bahkan melarang solo hiking tanpa pendamping atau pemandu bersertifikasi. Komunitas mendesak agar kebijakan ini diperluas, mengingat beberapa kasus hilangnya pendaki tunggal yang sulit ditemukan.

  • Sertifikasi Kebugaran: Mulai diusulkan agar pendaftar event ultra running diwajibkan menyertakan hasil stress test jantung atau surat rekomendasi dokter terbaru, meniru standar yang diterapkan pada maraton internasional.

Secara keseluruhan, pesan dari tragedi di Lawu ini sangat jelas: kesadaran pribadi akan batas kemampuan fisik tetap menjadi pertahanan pertama di alam bebas, namun kini harus didukung oleh regulasi yang lebih ketat dan standar kesehatan yang tidak bisa ditawar lagi.

Share Yuk

Leave a Replay